Monday, March 2, 2009

KADO HOME-SCHOOLING

(Sebuah kisah Bagaimana belajar = Bermain dengan anak)

Jauh sebelum istilah Home-Schooling merebak di Indonesia, kami telah melakukan praktek Home-Schooling sejak anak pertama lahir, tepatnya pada tahun 1997. Dan akhirnya anak kedua dan ketiga juga membuat kami berkomitmen untuk melakukan Home-Schooling. Bagi kami, Home-Schooling tidak lebih dari hanya sebuah istilah. Bukankah dalam Islam, Kalimat indah berupa sabda Rasulullah, riwayat shalafus shaleh, bahkan perintah dalam FirmanNYA, telah menyerukan kepada semua yang bergelar orang tua, bahwa madrasah

(sekolah) pertama dan utama anak, adalah orang tuanya di rumah.

Kesan mendalam dari pepatah ; “Didiklah anakmu dua puluh lima tahun sebelum dia lahir”, membuat rasa penasaran dan takjub tersendiri. Betapa tidak, begitu besar peran dan tanggung jawab orang tua sebagai pendidik anak, sehingga sejauh dua puluh lima tahun sebelum anak lahir, pendidikan untuk mereka sudah berlangsung. Berawal dari semua ini, hoby membaca yang melekat dari kecil, menggiring saya rajin mengoleksi referensi sejak masih berstatus mahasiswi. Majalah Ayah Bunda, Ummi, Panasea, Tabloid Nova, Novel keluarga, dan buku-buku psikologi tumbuh kembang anak menjadi buku wajib kedua dibeli setelah buku paket kuliah. Di saat teman-teman asyik dengan komik serta novel “picisan” menemani waktu senggang, saya memilih buku-buku anak dan keluarga.

Motivasi dari kumpulan referensi pengetahuan tentang anak itulah, saya tahu bahwa usia dini adalah usia gold tumbuh kembang anak. Mulailah saya “berpetualang” dengan putra kecilku yang waktu itu tepat berusia dua tahun. Ya..mama tidak akan pernah lupa, celoteh lucu anakku, yang waktu itu sudah bisa mengucapkan tiga kata dalam kalimat, ”Apa ini mama?”, “Apa itu mama?”, “Kenapa begini mama?”. Pertanyaan inilah yang tidak pernah bosan anakku ungkapkan. Sayapun bertekad, mendampingi hari-hari anakku yang tidak akan pernah terulang.

Alhamdulillah, lokasi rumah kontrakan kami waktu itu sangat kondusif untuk kami melakukan “Tamasya Belajar”. Prinsip yang kami anut wasktu itu adalah, waktu bermain adalah waktu yang tepat untuk mempelajari berbagai ilmu. Prinsip inilah yang menggiring dan membentuk pikiran anak-anak bahwa tidak ada waktu yang sia-sia karena setiap kegiatan pasti bermanfaat. Kami berusaha menanamkan dalam benak terdalam anak-anak, bahwa kehidupan ini berproses, dan dalam proses kehidupan itu adalah pembelajaran. Kami mencoba dan terus berusaha mengenalkan dan memberi pemahaman bahwa janji Allah SWT dalam firmanNya yang mengatakan tidak ada yang Dia ciptakan sia-sia dan juga tanda-tanda di alam ini. IQRA’ (baca: pelajarilah) selalu kami jadikan ikon dalam setiap petualangan seru kami.

Halaman yang luas dan asri ditumbuhi beragam tanaman sungguh sebuah nikmat yang luar biasa yang Allah anugrahkan kepada keluarga kami saat itu. Mulai dari pohon mangga, jeruk, kelapa, dan pisang. Pohon mangga yang tumbuh berdampingan tepat disamping rumah, kami jadikan “arena ketangkasan”. Berbekal sepotong papan bekas dan tali, kami membuat ayunan sederhana. Tali kemudian kami ikatkan di pohon kelapa untuk dijadikan tempat bergantung juga berfungsi sebagai net di saat kami bermain “lempar tangkap” bola dan bulu tangkis. Tanah gundukan bekas galian lubang sampah kering, yang ada di bawah pohon mangga, kami biarkan teronggok menyerupai bukit kecil. Ya..lagi-lagi tidak kami sia-siakan, sarana itu kami jadikan cross jumping setelah anakku mahir dengan sepedanya. Motorik kasar anakku terlatih dan terbentuk di arena ini. Melompat, memanjat, bergantung, berayun, sungguh permainan yang mengasyikkan. Percobaan sains tentang gaya, baik besar dan macam-macam gaya, gravitasi, gesek, kami praktekkan di arena ini.

Halaman belakang rumah yang juga tidak kalah luasnya, adalah anugrahNya yang membuat tamasya belajar kami semakin seru. Tepat disudut belakang rumah, ada sumur yang sudah dibuatkan dinding batu, sehingga aman untuk anak-anak. Untuk memudahkan kami bermain air, kami membuat pipa yang dilengkapi dengan kran air dan selang panjang. Disinilah kami melewatkan hari-hari dengan kegiatan yang kami beri nama “arena air”. Mandi, mencuci pakaian dan juga mencuci piring, adalah kegiatan yang tidak sekedar menyelelesaikan pekerjaan rumah tangga belaka, tapi dengan mengikutsertakan si kecil, pembelajaran kemandirian sejak dini kami tanamkan.

Di samping area sumur, terdapat tanah kosong yang akhirnya kami sulap menjadi kebun mini. Beraneka tanaman apotik hidup dan sayur sayuran, kami tanam. Proses pengolahan tanah mulai dari menggemburkan memakai cangkul, menyemai bibit tanaman, menanam, merawatnya sampai memetiknya, kami libatkan si kecil. Anakku belajar banyak hal dalam kegiatan ini. Mengenal nama-nama jenis tanaman, bumbu dapur, aroma tanaman, membedakan bentuk daun, juga jenis akar. Pembelajaran ini memudahkan dan membuat pelajaran sains menjadi pelajaran favorit setelah kelas empat SD.

Halaman depan, tidak seluas wilayah samping dan belakang. Untuk memberi fokus pandang yang indah sebelum masuk rumah, kami membuat taman. Aneka warna, bentuk, dan jenis bunga kami tanam. Anakku belajar warna, bentuk, dan klasifikasi dari area ini. Aneka bunga yang tumbuh subur, mengundang banyak kupu-kupu dan banyak serangga lainnya. Sarana ini sungguh mengasah ketakjuban fitrahnya akan kekuasaan dan kebesaran Tuhan.

Tidak cukup di wilayah luar rumah, suasana dalam rumah tidak kalah serunya kami sulap. Rumah kami rancang sebagai sekolah. Dinding dipenuhi tempelan huruf hijaiyah yang kami pakai sebagai sarana belajar Qur’an. Ruangan yang empat persegi kami buat dalam beberapa sudut pembelajaran. Ada sudut baca tulis yang dipenuhi koleksi buku dan aneka alat tulis, sudut tekhnologi dihiasi seperangkat computer. Ocehan keluarga besar suami dan saya sendiri, tentang suasana rumah kami yang “aneh” di mata mereka, tidak membuat kami ciut. Bahkan hal itu menjadi motivator untuk membuktikan bahwa konsep pendidikan yang kami terapkan tidak salah.

Ruangan dapur juga tidak ketinggalan menjadi arena yang seru. Bagaimana tidak, acara masak memasak setiap hari menjadi jadwal kegiatan rutin kami. Subhanallah..anak-anak banyak mengenal konsep matematika dari kegiatan ini. Bukankah mereka akan mengenal konsep pembagian dari memotong sayur dan buah? Mengenal konsep penjumlahan dan pengurangan di saat proses pembuatan makanan? Mengetahui perubahan wujud di saat air mendidih dan bahkan di saat membuat sambal? Yang paling berkesan lagi, anak-anak akan mengetahui bagaimana “repotnya” orang tua terutama ibu dalam menyiapkan makanan. Kesan ini akan membuat mereka tidak akan menyia-nyiakan makanan dan membuatnya berselera makan karena keikutsertaan mereka mengolah dan menyiapkan makanan sendiri. Nilai sosial juga tidak ketinggalan, karena anak-anak akan menyadari bagaimana kondisi kaum duafa yang tidak setiap saat bisa menikmati makanan. Begitu pula dengan nilai spiritual, proses pembuatan makanan akan menyentuh fitrah, bahwa semua makanan tersebut berasal dari mana? Momen seperti inilah saat yang tepat mengenalkan keberadaan Allah SWT, Sang Pencipta.

Tepat di usia tiga tahun, mutiara kecil kami mulai heran melihat teman-temannya (anak tetangga), yang pergi sekolah. Mungkin si kecilku penasaran kenapa mereka pergi sekolah? Sementara kami setiap hari merasa bersekolah di setiap “arena” yang kami ciptakan.

Mulailah setiap hari, anakku didandani layaknya anak yang mau berangkat sekolah. Lengkap bekal makanan dan minuman, sepatu, dan alat tulisnya. Setiap jam delapan pagi, kami mulai acara “sekolah”. Di usianya yang masih tiga tahun, anakku sudah bisa membaca, menulis namanya, serta memperkenalkan diri dan anggota keluarganya. Dengan penuh semangat, saya berikan terus stimulasi yang anakku butuhkan.

Tetapi kegiatan kami ini, tidak begitu saja menghapus rasa penasaran anakku untuk melihat sekolah sungguhan. Suasana hiruk pikuk anak tetangga yang setiap hari berangkat sekolah, membuat rasa ingin tahunya tak terbendung lagi. Saya kemudian membawanya survey ke beberapa sekolah TK dan Play Group yang terdekat dengan lokasi rumah, bahkan untuk membuat anakku tidak penasaran, kami meminta izin untuk menjadi murid tamu di beberapa sekolah. Dan hasilnya, “Mama, aku sekolah di rumah saja yah?” pintanya suatu hari.

Tidak terasa, tamasya belajar kami di rumah, sudah berlangsung hingga anakku berusia lima tahun. Saya kembali mengajaknya survey Sekolah Dasar. Petualang kami kali ini tidak hanya sebatas melihat suasana dan kondisi sekolah, tetapi anakku sempat mengikuti tes lisan dan tertulis, bahkan wawancara psikologi. Serunya lagi, kami mendapatkan surat panggilan lulus dari beberapa sekolah. Kondisi ini kami diskusikan dengan anakku yang kini semakin bisa diajak berdialog. Namun hasilnya, “Mama, aku sekolah di rumah saja ya?” kata anakku tegas. ”Belum ada yang bisa menyaingi sekolah kita Ma”, katanya lagi, penuh rasa bangga.

Waktu berjalan dan lewat tanpa terasa, anakku berusia sebelas tahun. Melihatnya tumbuh dan berkembang penuh percaya diri membuatku bahagia yang sulit terungkap dan terlukis dengan kata-kata. Saat Ujian Nasional yang biasanya jadi saat-saat yang menegangkan bagi siswa dan orang tua, sebaliknya jadi saat-saat penantian yang indah untuk aku dan anakku. Dan akhirnya, Qadhrullah telah tiba, janji Allah tidak pernah ingkar selama manusia mau berusaha dan berdoa. Hasil ujian akhir anakku, sangat membanggakan. Dan untaian kata yang dirangkainya untukku, akan terngiang sepanjang masa. Bagai kasihku yang tak akan pernah pudar sepanjang masa, untukkmu anakku. Sepenggal kalimat yang terukir dalam diarynya: Mama, terimakasih atas segala pengorbananmu mendampingiku. Kado terindah dalam hidupku, adalah engkau dengan sabar, tak mengenal lelah dan penat, menuntunku menaklukkan dunia dalam sekolah rumah kita, Ya..Home-Schooling

Mama yakin bahwa kamu tahu anakku, perjalanan masih panjang. Dunia mananti generasi HEBAT. Hebat karena kecerdasan, hebat karena kuat dan tangguh, dan yang lebih penting lagi, hebat karena takutnya kepada ALLAH. Sepenggal episode dalam hidupmu, terlewati sudah anakku. Bagian penggalan berikutnya, mari kita hadapi. Ingat! kapan dan dimanapun engkau berada, sayang dan doaku selalu bersamamu.

Friday, February 20, 2009

GELAR IBU, SEBUAH RENUNGAN

Tidak asing lagi bagi kita, pepatah yang mengatakan : “Kasih anak sepanjang jalan, kasih ibu sepanjang masa.” Tidak hanya dalam pepatah, kasih sayang seorang ibu diuntai dengan kalimat indah, tak kalah syahdunya lirik sebuah lagu tentang “ibu” yang terekam kuat dalam memori sejak dari bangku TK:

Kasih ibu kepada beta

Tak terhingga sepanjang masa

Hanya memberi, tak harap kembali

Bagai sang surya

Menyinari dunia

Kasih sayang seorang ibu, juga digambarkan Rasulullah SAW dalam sabdanya yang agung:

“Surga itu dibawah telapak kaki ibu”(HR.Ahmad)

Islam sungguh memuliakan peran ibu, sehingga surga yang dirindukan oleh semua insan di bumi ini dijadikan hanya ada di “gelar” seorang ibu.Wahai… ibu, anda patut berbahagia.

Tidak cukup sampai di situ, Rasulullah SAW mengangkat derajat perempuan sebagai pemimpin. Kalau ibu-ibu gagal menjadi direktris perusahaan, jangan kecewa! Atau ibu-ibu tidak terpilih sebagai caleg, jangan bersedih! Atau nama ibu-ibu tidak tercantum dalam daftar PNS yang diterima. jangan putus asa! Engkau wahai…ibu, seorang pemimpin dalam rumah tangga suami, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

“Seorang perempuan adalah yang bertanggung jawab atas rumah suami dan anaknya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya” (HR.Muslim)

Kemuliaan seorang ibu, digambarkan pula dalam riwayat Abu Hurairah bahwa sesesorang datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, ”Wahai rasulullah, siapa orang yang paling berhak saya perlakukan dengan baik? Rasulullah bersabda, ”ibumu”. Dia bertanya, ”Setelah itu siapa?”, Rasul menjawab, ”ibumu” dan kemudian ketiga kalinya bapakmu”. Wahai..ibu, nikmat yang mana lagi yang disangsikan sebesar “gelar ibu”.

Kehormatan sebagai ibu, juga dirangkai sebagai perintah dalam firman Allah SWT, dimana Allah menegaskan kenapa “ibu” begitu dimuliakan:

“Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun.Bersyukurlah kepadaKu dan kepada kedua ibu bapakmu, hanya kepadaKulah kembalimu.” (QS.Lukman:14)

Perjuangan ibu yang begitu besar, bertarung dengan nyawa, melalui masa sembilan bulan yang tidak singkat, pastilah bukan pekerjaan sepele. Berbanggalah wahai ibu, Allah SWT memilih perempuan menyandang gelar IBU. Hanya ibu yang bisa hamil, melahirkan, dan menyusui. Dalam hal ini Rasulullah bersabda:

“Wanita yang sedang hamil dan menyusui sampai habis masa menyusuinya seperti pejuang digaris depan fii sabilillah. Dan jika ia meninggal diantara waktu tersebut, maka sesungguhnya baginya adalah pahala mati syahid.” (HR Thabrani)

Sungguh, hal ini merupakan motivasi sekaligus gelar kehormatan yang begitu besar yang Allah berikan kepada kaum perempuan. Adakah kiranya diantara engkau wahai yang bergelar ibu, tak ingin meraihnya?

Tak ada kata selesai dalam mengiringi perjuanganmu IBU. Setelah anak lahir, tumbuh dan berkembang besar, engkau IBU...., harus siap lahir batin mendidik anak. Sungguh amanah yang tidak mudah. Namun yakinlah wahai para ibu, perjuanganmu tak sedikitpun akan disia- siakan oleh Allah SWT.

Sayang sejuta sayang…, fakta yang sangat ironis menyeruak dikalangan masyarakat. Berita dan kejadian yang membuat gelar kehormatan yang selayaknya menjadi mahkota kebanggaan dan kemuliaan seorang ibu, haruskah JATUH…PECAH…dan TERSERAK??

Berita seorang ibu yang tega membuang bayinya hanya karena kekesalannya kepada suami yang pengangguran. Seorang ibu yang tidak belas kasihan menyaksikan buah hatinya meregang nyawa karena racun yang sengaja ibunya minumkan. Seorang ibu yang terbelit hutang tak pilu menjual anak gadisnya. Semua kejadian tragis itu berdalih tekanan ekonomi. MasyaAllah…dimana gerangan hilang surga yang ada ditapak kakimu duhai IBU ??

Maraknya beberapa kejadian, seorang bayi meninggal ditangan bocah tetangganya karena ditinggal pergi ibunya yang asyik mengobrol dengan tetangga. seorang balita yang tewas jatuh dari ketinggian dua puluh lima meter apartemen disaat ibunya tidur siang. Seorang balita yang meninggal jatuh dari escalator setelah terpisah dari ibunya. Seorang gadis cilik yang diculik, diperkosa lalu dibunuh karena kelengahan pengawasan ibu saat anak bermain. Seorang bocah tewas mengenaskan tergantung ditali mainannya saat ia bermain dengan adik-adiknya di rumah. Seorang…sesorang… dan akan sampai berapa orang lagi mutiara-mutiara kecil itu akan pergi begitu saja? Kemanakah gerangan engkau berada wahai ibu, disaat malaikat kecilmu ingin menikmati dunia bermainnya..dunia berlarinya dan dunia bertemannya?

“Kapan waktumu untukku wahai bunda”, tanya jerit pilu mereka di saat bocah-bocah itu membutuhkan perlindungan dari ibunya. Apakah sulitnya menggenggam erat jemari mungilnya di saat ibu berbelanja? Janganlah model baju yang lagi trend, promosi diskon yang menggoda, dan segala barang yang mengundang konsumerisme membuat buah hatimu membayarnya dengan nyawa. Apakah pekerjaan rumah yang menumpuk dari hari ke hari membuat engkau duhai ibu tidak punya waktu bersama anakmu disaat mereka bermain?

Bukankah bermainnya mereka adalah saat belajarnya, dan sebaliknya belajarnya mereka adalah saat bermain? Bukankah dengan mengajak mereka ikut serta dalam pekerjaan sehari-hari ibu, adalah membuat mereka belajar? Di saat memotong sayur atau buah adalah mereka belajar konsep matematika. Bukankah mereka mengenal pembagian nyata di saat memotong? Bukankah mereka mengerti penjumlahan dan pengurangan di saat proses pembuatan sayur? Bukankah mereka menyaksikan perubahan wujud di saat mendidihkan air, menanak nasi, dan bahkan di saat membuat sambal? Mereka pun mengenal warna dan bentuk dari bahan makanan, mengenal rasa dan aroma dari bumbu masakan, mengenal sifat-sifat benda, dan seribu satu macam pelajaran lagi. Tidakkah dengan meluangkan waktumu bersama anakmu bunda, semakin mendekatkan engkau dengan Allah SWT.

Memantau dari hari ke hari tumbuh kembang anak, akan mengukir indah sebuah ketakjuban akan kebesaran Allah Azza Wajalla. Dari makhluk yang lemah waktu masih bayi, tumbuh bisa berdiri..berjalan..berlari..mengucapkan kata pertamanya..merespon perintah dan sejuta aksi yang menakjubkan akan menuntun engkau bunda mengerti kasih sayang Ilahi. Kenapa hakikat hidup dipisahkan dari mereka? Bukankah hidup ini adalah proses pembelajaran? ….. Karena itu tidak ada alasan buah hati jauh dari pengawasan ibu.

Wahai.. ibu, kalau waktumu habis karena alasan karier: apakah rumah bertingkat, mobil mewah, jabatan tinggi, itukah hartamu? TIDAK bunda, AKU anakmu harta yang tidak akan habis DUNIA AKHIRAT. Alasan dakwah? Bukankah utuh dan kuatnya anak-anak adalah dakwah pertama dan utama yang diperintahkan Rasulullah SAW???? Alasan pekerjaan rumah, bukankah ibu harus mengikutsertakan anakmu dalam mengenal berbagai aktivitas agar kelak anakmu tumbuh mandiri dan tangkas? …..dan …dan… semua dalih demi buah hatimu.

Ingat bunda, anakmu adalah hadiah terindah dan teristimewa sekaligus sebagai amanah dari Allah SWT yang harus dijaga, dirawat dan didik semaksimal mungkin. Aku anakmu bunda, adalah ladang pahala yang akan engkau panen diakhirat kelak. Aku anakmu bunda, adalah tabungan bunda yang akan menjadi jembatan mendapatkan surgaNya. Rasulullah bersabda:

“Bila seorang meninggal, terputuslah semua amalannya kecuali tiga perkara:amal jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang shaleh yang berdoa untuknya.”(HR.Muslim)

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi ibu-ibu yang sedang berjuang meraih gelar IBU

Tamalanrea, 1 Desember 2008

Monday, December 15, 2008

Puisi-puisi Auliyah

Terimakasih Bunda

Bunda….

Kebaikan mama bagaikan malaikat

Tak ada yang bisa mewakili

Kata-kata seindah kebaikanmu

Bunda….

Tak mengenal lelah merawatku

Tak kenal mengeluh bersamaku

Bunda….

Aku tak ingin melihat bunda lelah

Aku tak rela melihat bunda sakit

Aku sedih kalau bunda harus marah

Bundaku, guruku

Bundaku, jiwaku

Bundaku, bidadariku

Bundaku, teladanku

Bundaku, cintaku

Maafkan aku bunda

Kalau aku pernah menyakitimu untuk semua

Aku tak akan pernah bosan

Mengucapkan terimakasih bunda

Auliyah kls 2 Sdit Ar-Rahmah

Puisi-puisi Qowy

Doa Cinta Untuk Mama

Mama….

Engkau adalah pelitaku

Memberi cahaya

Dikala gelap

Menuntunku

Dikala terang

Mama….

Senyummu bagai sinar bulan

Teduh, menghibur dikala kusedih

Hangat, penuh kasih

Mama….

Kesabaranmu, kuat bagai gunung es

Kebaikanmu, setinggi langit biru

Kasih sayangmu, selembut awan bergerak

Kata-katamu, menusuk syahdu relung hati

Mama….

Tuntunanmu, akan selalu terukir indah

Nasehatmu, akan selalu terpatri kuat

Ajaranmu, akan selalu terhias agung

Sapaanmu, akan selalu terngiang rindu

Tuhanku….

Kuingin, Engkau kuatkan mama

Dalam sabar dan shalat

Kuharap, Engkau lindungi mama

Dalam dekap kasih-Mu

Kuimpikan, Engkau sayangi mama

Dalam istana Ar-Rahim dan

Rahman-Mu

Kumohon, Engkau ridhai mama

Dalam surgamu yang kekal

Mama….

Doa dan pintaku, mama

Akan bersamaku di surga

Kelak

Aminn

Makassar, 1 Desember 2008

Anakmu Qowy

Tuesday, October 7, 2008

Berbagai Kendala Menjadi Homeschooler

Berbagai kendala yang kami hadapi dalam melaksanakan homeschooling paruh waktu adalah tanggapan miring dari orang tua murid yang satu sekolah dan dari sebagian guru-guru dalam lingkungan sekolah tersebut. Untunglah kepala sekolah dan wakilnya mendukung kami, bahkan merencanakan menjadi sekolah yanh siap mewadahi homeschooling paruh waktu.

Beberapa tanggapan miring dari orang tua dapat kami catat, misalnya ungkapan, (1) "Enak sekali, anaknya pasti rangkin pertama karena mendapat perlakuan khusus", (2) "Wah, ini tidak adil, anaknya pasti tidak mendapat beban," (3) "Jadi anak itu tidak membayar SPP seperti yang lainnya, yach?". Kalimat-kalimat ini hanyalah contoh. Yang pasti kami tidak peduli dengan hal tersebut.

Sebagai solusi, kami berkonsultasi dengan kepala sekolah (Kepsek) dan wakilnya (Wakepsek). Kami bertiga membuat wacana kesepatakan tentang konsep homeschooling paruh waktu. Secara pribadi, saya mengingatkan kepala sekolah bahwa semua kewajiban anak saya di SDIT ini saya penuhi. Artinya SPP dan biaya lainnya tetap saya bayar, meskipun anak saya tidak ke sekolah setiap hari (sebagai catatan, anak saya hanya ke sekolah pada pelajaran Olah Raga dan Keterampilan serta Pramuka. Kegiatan extra ex-school wajib diikuti oleh si Qowy). Kami juga sepakat bahwa homeschooling paruh waktu terbuka bagi siapa saja dengan kewajiban yang telah diatur oleh kepala sekolah dan wakilnya. wacana ini dilemparkan pada saat rapat orang tua murid.

Penjelasan kepsek dan Wakepsek pada rapat bulan orang tua murid dan pengelola sekolah mendapat sambutan yang baik. Penjelasan tentang kebijakan homeschooling paruh waktu tersebut sekaligus menghentikan tudingan miring selama ini. Sebagai orang tua, kami juga diminta memberi pendapat tentang keputusan kami mengambil sikap homeschooling paruh waktu. Karena itu, dalam rapat ini, kami berdua (suami-istri) bergantian memberikan penjelasan tentang homeschooling paruh waktu, dukungan sekolah dan apa keuntungan sekolah di masa datang. kami menjelaskan bahwa ini bisa menjadi 'pilot project' homeschooling paruh waktu bagi mereka yang berminat nantinya di kemudian hari.

Tantangan dari guru sekolah yang belum memahami konsep homeschooling paruh waktu kami atas dengan beberapa cara, di antaranya (1) memberi bantuan buku-buku pendidikan, khususnya yang bertema homeschooling ke SDIT, dan (2) meminta Kepsek dan Wakepsep agar dilaksanakan dialog internal tentang homeschooling paruh waktu yang diterapkan untuk si Qowy. Singkat cerita, beberapa buku kami berikan dan dibaca oleh guru-guru yang berminat. Meskipun demikian, masih ada beberapa guru yang tidak mau terbuka alias masih anti dengan homeschooling. Alasan diajukan adalah seakan-akan homeschooling tidak menghargai sistem sekolah. Untunglah Kepsek dan Wakepsek dengan sabar memberi penjelasan hingga konsep ini dipahami secara internal.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa mejadi homeschooler paruh waktu, banyak mendaat tantangan. Diperlukan usaha dan ketabahan hati mengahadapi semua masalah tersebut. Di samping itu, tidak letih memberi penjelasan dan berbagi hal-hal positif menjadi homeschooler.

Memulai HomeSchooling 2

YOU as the PARENT know what's BEST for YOUR child!

Andaharus tahu bahwa tak seorang pun yang akan memperhatikan anak-anak Anda sedalam perhatian Anda selain Anda sebagai orang tua. Begitu pula, tak seorang selain Anda yang akan memberikan waktunya kepada anak-anak Anda selain Anda. Yang Anda butuhkan adalah informasi tentang HOmeschooling dan Anda akan dapat memutuskan pendidikan yang tepat untuk anak-anak Anda.

Paragraf inilah yang membuat kami harus melakukan Homeschooling untuk anak-anak kami sekembali dari Australia. Pada tahun 2004, Pebruari, anak kami yang pertama didaftar pada sekolah dasar islam terpadu (SDIT) Ar-Rahmah yang terletak di Kompleks Perm Dosen Unhas. SDIT ini tidak jauh dari rumah kami. JArak yang dekat menjadi alasan kami untuk mendaftar di sekolah tersebut. Kami tidak memilih sekolah kategori "favorit" menurut masyarakat dengan alasan kurikulum dapat kami ajarkan di rumah.

Hari-hari pertama dilalui oleh anak kami dengan susah payah. Kesuliatan bahasa menjadi keluahan setiap hari. Waktu kembali dari Australia, anak kami baik yang pertama maupun yang kedua kurang mampu berbahasa Indonesia. Mereka berdua lebih mendahulukan penggunaan bahasa Inggris. Namun, kami memberi pengertian bahwa lambat laun mereka akan memahami bahasa Indonesia. Waktu berlalu dan dan 3 bulan kemudian masalah bahasa mulai teratasi.

Keluhan kedua yang diutarakan oleh anak kami adalah banyaknya pekerjaan rumah (PR). dia mengomel dan mengatakan, "Exercise so much, it's unfair for kids. Sudah banyak, tidak menarik lagi cara menerangkannya". Begitulah keluhannya setiap hari. Akibatnya setiap pagi, si Qowy kadang mual-mual. Ternyata penyebabnya, setelah konsultasi dengan psikiater, adalah tekanan sekolah yang dianggapnya musuh atau tempat penyiksaan.

Kendala lainnya yang kami dapati adalah protes dari guru dan orang tua murid lainnya. beberapa guru mengatakan bahwa homeschooling akan membuat percepatan pengetahuan kepada si Qowy dan karena itu si Qowy akan menjadi juara dan rangkin satu secara terus menerus. Begitu pula yang disampaikan oleh beberapa orang tua murid lainnya. Penanganan di rumah dianggap tidak adil. Akhirnya kami mengatakan, kalau jumlah murid dalam kelas si Qowy adlah 30 orang, maka kami meminta kepada guru kelas, guru bidang studi dan kepala sekolah menulis si Qowy pada rangkin 30. Kami tidak butuh rangkin. kami butuh pendidikan yang mengantar si Qowy untuk menghapadapi kehidupan nyata nantinya.

Berbagai keluhan diuatarakan anak kami. Akhirnya kami berkonsultasi dengan kepala sekolah dan diputuskan, kami mengajar si Qowy di rumah. Semua pekerjaan dan materi pelajaran mengikuti kurikulum sekolah. Sedangkan pengayaan materi diserahkan kepada kami. Sejak itu, kami melakukan Homeschooling paruh waktu, artinya Qowy tetap terdaftar di SDIT dan kami tetap membayar iuran dan segala macam pembayaran lainnya. Namun, Si Qowi hanya belajar di rumah mengikuti kurikulum sekolah ditambah dengan pengayaan lainnya. Kami hanya melaporkan perkembangannya ke guru kelas, bidang studi dan kepala sekolah secara reguler. Inilah yang terjadi hingga saat ini.

Memulai HomeSchooling 1

Merujuk tulisan kami tanggal 10 April 2007, sesungguhnya kami telah melakukan homeshooling sejak tahun 1998/1999. Hanya saja kami tidak tahu bahwa kegiatan kami waktu itu sudah termasuk program homeshooling. Waktu itu, kami tidak memiliki referensi yang cukup mengenai program homeschooling, termasuk fasilitas internet. Adapun mainan, kami buat sendiri. Kami berprinsip waktu itu bahwa pendidikan anak adalah prioritas utama.

Dukungan pelaksanaan homschooling untuk anak-anak kami sangat berbeda secara 'financial' sebelum dan sesudah kembali dari Ausie. Perlu kami infokan bahwa kami masih ngontrak selama 4 (empat tahun) dan memiliki rumah sendiri setahun sebelum ke Autralia (Ausie). Saya sendiri masih kuliah S2 di UNHAS dan nyambi ngajar sampe malam di univeristas swasta lainnya. Pada saat itu, saya belum menjadi PNS (dosen), baru terikat karya siswa (beasiswa URGE). Apa artinya, pendidikan itu butuh dana, waktu dan prioritas. Ada orang tua yang berlebihan dari segi dana, tetapi tidak cukup waktu untuk melakukan homeschooling dan bukan prioritas. Tugas tersebut sudah dibebankan kepada pendidikan formal dan berbagai kursus.

Ketika anak kami masih bayi, baik si Qowy maupun si Ayi, istri saya sudah mulai memberi stimulan dengan banyak bicara. Kegiatan ini dilakukan secara berkesinambungan. Apa yang dilakukan oleh istri saya; Annisa Johani (Ani) yang tercinta (dan insya Allah terakhir) bukannya tidak menuai anggapan miring dari keluarga dan teman-teman. Sekali waktu, kami mengundang keluarga untuk berkumpul. Saat itu, si kecil Qowy menangis karena 'pipis'. Ani terus berkomunikasi sambil mengganti celana si Qowy. Rupanya hal ini diperhatikan sama keluarga.

Salah seorang dari mereka nyeletuk, "Bayi itu belum bisa bicara, tidak usah diomongin". Yang lain berkata, "Kayak orang gila aja, masak bayi diajak bicara?". Berbagai macam ungkapan yang 'nyakitin hati' kalau mau didengar. Tapi kami tetap melaksanakan apa yang kami anggap baik untuk si kecil Qowy waktu itu.

Saat Qowy memasuki usia TK, kami membawanya ke TK terdekat. Satu Dua Hari pertama, si Qowy sangat bersemangat. Tetapi menjelang satu bulan, saat dia merasa bahwa segala mainan di sekolah itu dapat digunakan, masalah mulai muncul. Suatu ketika, si Qowy mau bermain 'susun balok', namun dilarang oleh Bu guru.

"Bu guru, boleh saya bermain balok susun?" Tanya dia kepada Bu guru.

"Mainan itu bukan untuk hari ini, tetapi untuk besok. Permainan hari ini adalah luncur-luncuran dan naik kuda", katanya

"Kenapa bukan untuk hari ini Bu guru, khan tidak ada yang pake?" Tanya Qowy lebih lanjut

"Pokoknya, tidak boleh!!! Sana main sama luncur-luncuran!" Perintah Bu guru

Kejadian ini diceritakan oleh Qowy kepada kami. Kami berusaha mendatangi sekolah TK tersebut dan menceritakan protes anak kami. Kepala sekolah (kebetulan kenal baik) tidak keberatan dan memanggil Bu guru. Kami mohon maaf atas kejadian itu dan meminta kepada kepala sekolah dan guru di TK itu untuk lebih bijak mengajar dan tidak kaku dalam melaksanakan kurikulum sekolah. Saran kami diterima baik.

Kejadian lainnya adalah saat pelajaran menulis. Teman-teman si Qowy diajar memegang pensil dan menulis huruf A berkali-kali. Si Qowy yang sudah merasa memapu menulis huruf tersebut meminta untuk pindah ke halaman berikutnya untuk menulis huruf B dan seterusya. hal ini bisa terjadi karena motorik kasar dan halus si Qowy sudah kami stimulan sejak dini. Namun, keinginan si Qowy lagi-lagi disalah artikan oleh Bu gurunya yang lain (yang mengajar menulis waktu itu, bukan yang melarang bermain 'balk susun').

"Tidak boleh, kalau sudah selesai menulisnya, duduk dan lipat tangan sampai teman-temannya juga selesai" Perintahnya

Akhirnya, si Qowy cuma bertahan 3 (tiga) bulan di TK. Keputusan kami, keduanya kami ajar di rumah. Si Qowy tidak ke TK hingga kami ke Australia dan dia masuk Kindergarten. Selanjutnya masuk year one di Jesmond Public School, Newcastle, NSW, Asutralia hingga kami balik ke Indonesia, Januari 2004.

Hal yang sama dialami oleh si Ayi ketika TK (sudah balik dari Ausie). Dia cuma mampu bertahan sekitar 4 (empat) bulan dan setelah itu MOGOK. Si Ayi selalu bilang bahwa mainan di rumah lebih banyak dan bervariasi dibandingkan dengan di TKnya.

Kami berharap, agar si Ayi dapat ke sekolah dan kami melakukan homeschooling paruh waktu. Akan kita lihat nanti.