(Sebuah kisah Bagaimana belajar = Bermain dengan anak)
(sekolah) pertama dan utama anak, adalah orang tuanya di rumah.
Kesan mendalam dari pepatah ; “Didiklah anakmu dua puluh
Motivasi dari kumpulan referensi pengetahuan tentang anak itulah, saya tahu bahwa usia dini adalah usia gold tumbuh kembang anak. Mulailah saya “berpetualang” dengan putra kecilku yang waktu itu tepat berusia dua tahun. Ya..mama tidak akan pernah lupa, celoteh lucu anakku, yang waktu itu sudah bisa mengucapkan tiga kata dalam kalimat, ”Apa ini mama?”, “Apa itu mama?”, “Kenapa begini mama?”. Pertanyaan inilah yang tidak pernah bosan anakku ungkapkan. Sayapun bertekad, mendampingi hari-hari anakku yang tidak akan pernah terulang.
Alhamdulillah, lokasi rumah kontrakan kami waktu itu sangat kondusif untuk kami melakukan “Tamasya Belajar”. Prinsip yang kami anut wasktu itu adalah, waktu bermain adalah waktu yang tepat untuk mempelajari berbagai ilmu. Prinsip inilah yang menggiring dan membentuk pikiran anak-anak bahwa tidak ada waktu yang sia-sia karena setiap kegiatan pasti bermanfaat. Kami berusaha menanamkan dalam benak terdalam anak-anak, bahwa kehidupan ini berproses, dan dalam proses kehidupan itu adalah pembelajaran. Kami mencoba dan terus berusaha mengenalkan dan memberi pemahaman bahwa janji Allah SWT dalam firmanNya yang mengatakan tidak ada yang Dia ciptakan sia-sia dan juga tanda-tanda di alam ini. IQRA’ (baca: pelajarilah) selalu kami jadikan ikon dalam setiap petualangan seru kami.
Halaman yang luas dan asri ditumbuhi beragam tanaman sungguh sebuah nikmat yang luar biasa yang Allah anugrahkan kepada keluarga kami saat itu. Mulai dari pohon mangga, jeruk, kelapa, dan pisang. Pohon mangga yang tumbuh berdampingan tepat disamping rumah, kami jadikan “arena ketangkasan”. Berbekal sepotong papan bekas dan tali, kami membuat ayunan sederhana. Tali kemudian kami ikatkan di pohon kelapa untuk dijadikan tempat bergantung juga berfungsi sebagai net di saat kami bermain “lempar tangkap” bola dan bulu tangkis. Tanah gundukan bekas galian lubang sampah kering, yang ada di bawah pohon mangga, kami biarkan teronggok menyerupai bukit kecil. Ya..lagi-lagi tidak kami sia-siakan, sarana itu kami jadikan cross jumping setelah anakku mahir dengan sepedanya. Motorik kasar anakku terlatih dan terbentuk di arena ini. Melompat, memanjat, bergantung, berayun, sungguh permainan yang mengasyikkan. Percobaan sains tentang
Halaman belakang rumah yang juga tidak kalah luasnya, adalah anugrahNya yang membuat tamasya belajar kami semakin seru. Tepat disudut belakang rumah, ada sumur yang sudah dibuatkan dinding batu, sehingga aman untuk anak-anak. Untuk memudahkan kami bermain air, kami membuat pipa yang dilengkapi dengan kran air dan selang panjang. Disinilah kami melewatkan hari-hari dengan kegiatan yang kami beri nama “arena air”. Mandi, mencuci pakaian dan juga mencuci piring, adalah kegiatan yang tidak sekedar menyelelesaikan pekerjaan rumah tangga belaka, tapi dengan mengikutsertakan si kecil, pembelajaran kemandirian sejak dini kami tanamkan.
Di samping area sumur, terdapat tanah kosong yang akhirnya kami sulap menjadi kebun mini. Beraneka tanaman apotik hidup dan sayur sayuran, kami tanam. Proses pengolahan tanah mulai dari menggemburkan memakai cangkul, menyemai bibit tanaman, menanam, merawatnya sampai memetiknya, kami libatkan si kecil. Anakku belajar banyak hal dalam kegiatan ini. Mengenal nama-nama jenis tanaman, bumbu dapur, aroma tanaman, membedakan bentuk daun, juga jenis akar. Pembelajaran ini memudahkan dan membuat pelajaran sains menjadi pelajaran favorit setelah kelas empat SD.
Halaman depan, tidak seluas wilayah samping dan belakang. Untuk memberi fokus pandang yang indah sebelum masuk rumah, kami membuat taman. Aneka warna, bentuk, dan jenis bunga kami tanam. Anakku belajar warna, bentuk, dan klasifikasi dari area ini. Aneka bunga yang tumbuh subur, mengundang banyak kupu-kupu dan banyak serangga lainnya. Sarana ini sungguh mengasah ketakjuban fitrahnya akan kekuasaan dan kebesaran Tuhan.
Tidak cukup di wilayah luar rumah, suasana dalam rumah tidak kalah serunya kami sulap. Rumah kami rancang sebagai sekolah. Dinding dipenuhi tempelan huruf hijaiyah yang kami pakai sebagai sarana belajar Qur’an. Ruangan yang empat persegi kami buat dalam beberapa sudut pembelajaran.
Ruangan dapur juga tidak ketinggalan menjadi arena yang seru. Bagaimana tidak, acara masak memasak setiap hari menjadi jadwal kegiatan rutin kami. Subhanallah..anak-anak banyak mengenal konsep matematika dari kegiatan ini. Bukankah mereka akan mengenal konsep pembagian dari memotong sayur dan buah? Mengenal konsep penjumlahan dan pengurangan di saat proses pembuatan makanan? Mengetahui perubahan wujud di saat air mendidih dan bahkan di saat membuat sambal? Yang paling berkesan lagi, anak-anak akan mengetahui bagaimana “repotnya” orang tua terutama ibu dalam menyiapkan makanan. Kesan ini akan membuat mereka tidak akan menyia-nyiakan makanan dan membuatnya berselera makan karena keikutsertaan mereka mengolah dan menyiapkan makanan sendiri. Nilai sosial juga tidak ketinggalan, karena anak-anak akan menyadari bagaimana kondisi kaum duafa yang tidak setiap saat bisa menikmati makanan. Begitu pula dengan nilai spiritual, proses pembuatan makanan akan menyentuh fitrah, bahwa semua makanan tersebut berasal dari mana? Momen seperti inilah saat yang tepat mengenalkan keberadaan Allah SWT, Sang Pencipta.
Tepat di usia tiga tahun, mutiara kecil kami mulai heran melihat teman-temannya (anak tetangga), yang pergi sekolah. Mungkin si kecilku penasaran kenapa mereka pergi sekolah? Sementara kami setiap hari merasa bersekolah di setiap “arena” yang kami ciptakan.
Mulailah setiap hari, anakku didandani layaknya anak yang mau berangkat sekolah. Lengkap bekal makanan dan minuman, sepatu, dan alat tulisnya. Setiap jam delapan pagi, kami mulai acara “sekolah”. Di usianya yang masih tiga tahun, anakku sudah bisa membaca, menulis namanya, serta memperkenalkan diri dan anggota keluarganya. Dengan penuh semangat, saya berikan terus stimulasi yang anakku butuhkan.
Tetapi kegiatan kami ini, tidak begitu saja menghapus rasa penasaran anakku untuk melihat sekolah sungguhan. Suasana hiruk pikuk anak tetangga yang setiap hari berangkat sekolah, membuat rasa ingin tahunya tak terbendung lagi. Saya kemudian membawanya survey ke beberapa sekolah TK dan Play Group yang terdekat dengan lokasi rumah, bahkan untuk membuat anakku tidak penasaran, kami meminta izin untuk menjadi murid tamu di beberapa sekolah. Dan hasilnya, “Mama, aku sekolah di rumah saja yah?” pintanya suatu hari.
Tidak terasa, tamasya belajar kami di rumah, sudah berlangsung hingga anakku berusia
Waktu berjalan dan lewat tanpa terasa, anakku berusia sebelas tahun. Melihatnya tumbuh dan berkembang penuh percaya diri membuatku bahagia yang sulit terungkap dan terlukis dengan kata-kata. Saat Ujian Nasional yang biasanya jadi saat-saat yang menegangkan bagi siswa dan orang tua, sebaliknya jadi saat-saat penantian yang indah untuk aku dan anakku. Dan akhirnya, Qadhrullah telah tiba, janji Allah tidak pernah ingkar selama manusia mau berusaha dan berdoa. Hasil ujian akhir anakku, sangat membanggakan. Dan untaian kata yang dirangkainya untukku, akan terngiang sepanjang masa. Bagai kasihku yang tak akan pernah pudar sepanjang masa, untukkmu anakku. Sepenggal kalimat yang terukir dalam diarynya: Mama, terimakasih atas segala pengorbananmu mendampingiku. Kado terindah dalam hidupku, adalah engkau dengan sabar, tak mengenal lelah dan penat, menuntunku menaklukkan dunia dalam sekolah rumah kita, Ya..Home-Schooling
Mama yakin bahwa kamu tahu anakku, perjalanan masih panjang. Dunia mananti generasi HEBAT. Hebat karena kecerdasan, hebat karena kuat dan tangguh, dan yang lebih penting lagi, hebat karena takutnya kepada ALLAH. Sepenggal episode dalam hidupmu, terlewati sudah anakku. Bagian penggalan berikutnya, mari kita hadapi. Ingat! kapan dan dimanapun engkau berada, sayang dan doaku selalu bersamamu.